Powered By Blogger

Selasa, 03 November 2009

INTEGRATIVE NEGOTIATION

Ibu menghampiri kedua anaknya yang berebut sebutir telur mentah. Lalu ibu memutuskan memberikan telur kepada adik, membujuk kakak untuk mengalah, ternyata sang kakak berontak. Demikian pula sebaliknya, ketika ibu berganti menyuruh adik yang mengalah. Dalam kasus itu, si ibu menggunakan teknik negosiasi dengan pola pikir distributive negotiation. Teknik ini menyangkut kepentingan yang sama dari pihak yang bernegosiasi, di mana keuntungan satu pihak adalah kerugian pihak lain. Dasar negosiasi ini win-lose thinking: “what is good for the other side must be bad for us”.

Singkat cerita, agar pertengkaran usai, ibu meminta sebutir telur pada tetangga. Sekarang, setiap anak memiliki sebutir telur. Sang kakak pergi membuka telurnya, menyaring, membuang kuning telurnya, dan memakai putih telurnya untuk mengolesi selembar fotonya. Sang adik juga beranjak, membuang putih telurnya dan memakai kuning telurnya untuk campuran adonan agar-agar. Andaikata si ibu mau menggali informasi kebutuhan masing-masing anaknya, dan keputusannya membagi sebutir telur tersebut, putih telur untuk sang kakak sedangkan kuning telur untuk si adik, maka pola pikir yang digunakan adalah integrative atau value–added negotiation yang lebih mengarah kepada progressive win-win stragegy.

Dalam melakukan negosiasi sebaiknya mengutamakan metode intergrative negotiation yang berbasis win – win solution, kecuali dalam hal tertentu di mana posisi tawar (bargaining position) sangat kuat dan adanya keharusan memenangkan konflik, dapat ditempuh metode distributive negotiation dengan dasar win – lose thinking. Pengalaman berfikir integrative sering dilakukan ketika saya masih menjabat supervisor toko buku Gramedia Cirebon. Misalnya saja pada saat ingin meningkatkan omzet penjualan buku best seller dengan mengadakan seminar. Siapa saja pihak yang dilibatkan bernegosiasi? Yang pertama, penerbit dan penulis buku, yang kedua adalah institusi pendidikan dimana mahasiswa dan dosennya sebagai target peserta utama. Ketiga ialah pihak media massa dalam hal ini beberapa stasiun radio serta koran lokal yang menjadi media publikasi dan sarana meraih sponsor lain.

Pada tahap awal negosiasi, persiapan yang dilakukan adalah penggalian informasi. Pertama, penerbit biasanya mempunyai budget promosi untuk menanggung biaya akomodasi penulis dalam rangka launching buku. Pun juga dengan pihak penulis, membutuhkan publikasi untuk eksistensi diri dan karyanya. Kedua ialah Institusi Pendidikan dimana dosen dan mahasiswa bernaung, mempunyai tempat dan fasilitas pertemuan untuk bermacam kegiatan yang rutin diadakan lembaga mahasiswa dalam meningkatkan nilai akreditasi. Ketiga, bagi radio di daerah, mengadakan talkshow radio dengan menghadirkan penulis buku tingkat nasional adalah sebuah cara meningkatkan kredibilitas image dan rating sebuah radio. Terakhir, koran lokal di cirebon, masing-masing wartawannya ditarget untuk mendapat berita menarik, lebih dari 5-8 berita setiap hari. Baik radio maupun koran lokal juga membutuhkan “branding” sebagai bentuk “confirmation” supaya dipercaya pengiklan.

Lantas apa yang bisa ditawarkan Toko Buku Gramedia untuk menjawab kebutuhan mereka sekaligus mampu meningkatkan omzet toko?. Kelebihan yang dimiliki toko buku yang pertama adalah “Top Brand”, “Good Will”, yaitu citra dan integritas baik yang dipercaya masyarakat. Yang kedua, audioland Gramedia yang ‘bisa’ dikomersialkan seperti layaknya stasiun radio yang dapat memutar promo seperti adlips maupun spot iklan. Adlips merupakan sebuah bentuk informasi promosi yang diucapkan langsung (dibacakan) oleh seorang penyiar, gaya penyampaiannya bisa berbeda-beda tergantung style sang penyiar sedangkan spot iklan terlebih dahulu direkam, bisa dalam bentuk dialog atau drama yang diputar berulangkali, biasanya berdurasi 30-60 detik.
Dari masing-masing kebutuhan dan kelebihan yang ada, negosiasipun terjadi. Akhirnya acara terselenggara dengan full barter. Penerbit menanggung akomodasi penulis sebagai pembicara seminar, memberikan tambahan discount buku dan mencetak brosur yang mencantumkan semua sponsor. Penulis buku mempopulerkan diri dengan road show di beberapa radio sponsor, diakhiri talkshow interaktif di toko sebelum acara seminar berlangsung. Tiket seminar dan buku pun semakin laris. Apalagi didukung display buku khusus yang menarik di toko.

Institusi pendidikan menyediakan tempat gratis di kampus dengan memasukkan seminar sebagai program kampus yang menambah nilai akreditasi. Alokasi dana kegiatan kemahasiswaan dari kampus dipakai untuk menanggung biaya kepanitiaan yang melibatkan senat mahasiswa. Dosen dan mahasiswa internal maupun peserta dari luar hanya membayar seharga buku, mendapatkan fasilitas tiket seminar setengah hari, buku karya pembicara, seminar kit dan produk sponsor lain.
Moderatornya dari redaktur koran, MCnya dari salah satu stasiun radio, dengan kompensasi bingkisan buku dari penerbit. Koran memuat berita sebelum dan sesudah acara disertai iklan yang memuat logo penyelenggara & semua sponsor. Berita tersebut ditempel indah di mading/ papan pengumuman toko buku. Spot iklan acara yang menyebutkan sponsor dibuat oleh radio dengan berbagai versi dan gaya diputar juga di audioland Gramedia. Begitu pula dengan rekaman talkshow radio. Audioland Gramedia dapat difungsikan seperti halnya radio dengan pendengar seluruh pengunjung Gramedia, tanpa menghilangkan gaya khas toko buku sesuai standar ISO. Sponsor lain memperoleh stand pameran dengan memberi tambahan fasilitas untuk peserta (biasanya sponsor makanan & minuman).

Dengan tipe negosiasi integrative, tim-tim negosiasi yang terlatih baik, dapat mencapai hasil yang memuaskan semua pihak. Keberhasilan integrative negotiation sangat tergantung kepada kualitas dari informasi yang dipertukarkan. Kebohongan menyembunyikan data kunci dengan taktik negosiasi yang tidak etis dapat merusak kepercayaan dan niat baik yang sangat penting dalam win-win negotiation. Puncaknya, semua sepakat, semua menang, semua senang!

Selasa, 06 Oktober 2009

PEMIMPIN SAAT INI

Dalam sebuah perkuliahan di perguruan tinggi kota Cirebon, dimana saat itu status saya menjadi dosen tamu Mata Kuliah Pengantar Manajemen. Di sessi sharring Kepemimpinan & Manajemen itu, ada pertanyaan menggelitik dari salah satu mahasiswi saya, “Bu, lebih efektif mana, pemimpin yang harus menyesuaikan diri dengan keadaan anak buah atau anak buah yang musti menyesuaikan gaya si pemimpin?”.
Apabila pertanyaan sederhana itu juga saya ajukan pada pembaca setia Info Kita? Apa tanggapan anda? Apabila anda pemimpin yang tentunya memiliki anak buah, akankah serta merta menyesuaikan diri dengan kondisi anak buah anda? Kalau anak buah anda bermacam-macam rupa, warna dan gaya, apakah anda akan mengikuti polah mereka? Atau justru sebaliknya, anak buah andalah yang harus mengerti anda. Karena seringkali ada anggapan bahwa seorang pemimpin adalah yang punya ‘power’ lebih, yang menentukan ‘hidup’ dan ‘mati’nya anak buah.
Tentunya tantangan kepemimpinan sekarang berbeda dengan 10 tahun yang lalu ketika saya masih duduk dibangku kuliah menjadi mahasiswa semester awal. Meskipun tuntutan dunia usaha tetap sama, namun cara mainnya telah berubah. Pencarian tentang apa sebenarnya yang ‘diperbuat’ oleh para pemimpin dan apa kunci sukses mereka saat ini menarik perhatian baik para akademisi maupun manajer.
Semua organisasi harus menghadapi lingkungan bisnis yang semakin tak terduga. Persaingan global yang semakin ketat, keadaan ekonomi yang turun-naik dengan drastis, deregulasi pasar, teknologi yang berkembang melesat dan melejit, suhu politik yang tidak terduga telah menciptakan lingkungan usaha yang tidak stabil.
The World is Flat. Batasan antar negara kian tipis, semua orang bisa terkoneksi, semua serba transparan. Flu Babi yang terjadi di Meksiko, langsung saat itu juga seluruh dunia bisa tahu. The World is Fast. Semua serba cepat, bahkan lebih cepat dari mengedipkan mata. No delay and speed menjadi ruh perusahaan dalam bersaing. The World is Focus. Perusahaan yang mampu focus terhadap nilai lebihnya (specialty) mempunyai competitive edge dan innovation edge diyakini mampu menghadapi persaingan,
Akibatnya, hakikat kepemimpinan yang efektif serta tuntutan yang dibebankan kepada para pemimpin pun berganti. Pengelolaan kompleksitas, inovasi dan perubahan merupakan tuntutan saat ini. Sejalan dengan hal ini, struktur organisasipun turut berubah. Ketika hirarki dan susunan kekuasaan formal tergeser oleh struktur organisasi yang lebih mendatar dan tim yang mengarahkan diri sendiri, kepemimpinan lama bergaya ‘perintah dan kendali’ menjadi tidak relevan lagi. Kepemimpinan lama yang hanya terpusat kepada ‘mau’nya sang pemimpin tidak akan efektif lagi.
Gaya kepemimpinan berdasarkan pada pemberdayaan dan pemberian kesempatan, yang lebih bersifat saling mendukung ketimbang memerintah, kini lebih dibutuhkan. Sebuah kepemimpinan yang memperhatikan “kemampuan dan kemauan” bawahan. Pandangan bahwa pemimpin yang efektif memimpin dengan menggabungkan rasa takut dan rasa hormat, telah digantikan pandangan lain, yaitu gaya memimpin yang menggabungkan rasa hormat dan kerjasama. Itulah kepemimpinan yang dibutuhkan pada situasi saat ini. Lalu, bagaimanakah gaya kepemimpinan Anda?

Jumat, 30 Januari 2009

SKENARIO DRAMA TAHUN BARU

ADEGAN I (SETAN+POCONG)
Narator Alur bersama 2 Narator watak berjalan kaku pake jubah dan topi Hitam/kerudung dengan berjalan membungkuk dan membawa dupa dari arah depan panggung. (diiringi musik jengkerik malam dan petir –musik serem lah pokoknya).

NARATOR ALUR:
Legenda ini mengisahkan tentang teror kegelapan yang menyelimuti sebuah komunitas. Bermula dari munculnya setan-setan pendosa yang menyelimuti habitat manusia .

(Setan-setan pendosa dari berbagai arah dengan muka pake topeng berkelibat terbang mengintari penonton, menari-nari menuju panggung. Dari arah panggung muncul pocong yang meloncat dan terdiam. Setan-setan tersebut berusaha membuka tali pocong dan setelah terbuka muncul musik tertawa setan dan mundur ke belakang panggung)


Narator Watak 1:
Setan-setan pendosa tersebut telah menyebarkan konflik di sebuah komunitas. Semua merasa benar. Semua Menjadi egois, Semua mementingkan diri sendiri. Semua saling menginjak. Semua saling menuduh.

Narator Watak 2:
Setan-setan pendosa juga telah menyebabkan berjangkitnya penyakit sosial berupa kemiskinan, keterbelakangan, kemunafikan, penipuan, korupsi, perekayasaan Dimana semuanya menjadi serba terbalik. Kata tidak sesuai dengan tindakan, kebenaran menjadi kebohongan dan kebohongan menjadi kebenaran.

Adegan 1 selesai


ADEGAN II (Gelandangan dan Penguasa)
(Para penguasa keluar dari belakang panggung. Gelandangan-gelandangan berserakan dari arah penonton meminta uang pada penonton, mengemis, meronta-ronta, terlunta-lunta)

NARATOR ALUR:
Fenomena yang ada setelah datangnya setan-setan pendosa adalah kesenjangan sosial, adanya sekelompok habitat yang dilimpahi dengan kekayaan sementara itu di sisi lain ada habitat yang mengalami kemiskinan, keterbelakangan, kelaparan sehingga mereka yang miskin tidak dapat menikmati hak-hak dasar mereka sebagai manusia.

(Gelandangan beraksi melolong-lolong minta tolong disia-sia oleh penguasa)


Narator Watak:
Kami memang orang-orang yang sekarat, kami memang orang-orang yang terbuang. Kami sadar bahwa kami memang sampah masyarakat. Tapi kami juga manusia. Kami berhak menikmati hak-hak dasar untuk hidup. Kami berhak memperoleh mimpi dan angan kami.

Narator Watak:
Kami adalah korban pemiskinan yang dilakukan oleh para penguasa yang menggemari kekuasaannya. Kami adalah wong cilik yang mengalami proses marginalisasi dan menjadi manusia paria di negeri kami sendiri.

Narator Watak:
Kami adalah tumbal dari penguasa yang rakus yang sangat berlebihan memuja kekuasaan yang dimilikinya. Kami adalah korban ketidakadilan, siapa yang peduli kami?

(Penguasa mempraktekkan kezaliman)

NARATOR ALUR:
Kegemaran akan kekuasaan cenderung membuat seseorang menjadi sewenang-wenang, gampang curiga, dan mudah mengenyahkan orang-orang yang dianggap hendak mengusik kekuasaanya. Psikologi kekuasaan telah membuat sang penindas merasa seperti kanak-kanak kembali yang senantiasa minta dilayani dan senantiasa ingin menjadi pusat perhatian.


Narator Watak:
Mengapa mereka begitu kejam terhadap kami, mengapa mereka tidak berperikemanusiaan, mengapa mereka suka memuaskan hawa napsu, mengumbar amarah, tanpa mempedulikan tangisan dan teriakan kami.

Narator Watak:
Mengapa mereka begitu sadis, begitu keji, Siapakah yang peduli kami, siapakah penolong kami, Ya Tuhaan dimanakah Engkau, Ya Allah.


(Penguasa naik ke panggung mempraktekkan adegan korupsi)

NARATOR ALUR:
Sang Penguasa adalah pembohong dan munafik, mereka menggunakan kepandaiannya untuk korupsi dan kolusi, membobol uang rakyat untuk kantong sendiri. Semua sadar bahwa habiotat ini mempunyai teori perencanaan yang indah, mempunyai undang-undang yang indah oleh karenanya sang penindas bisa berbicara sangat bagus dan enak didengar. Tapi mereka semua adalah munafik karena tidak ada kesamaan antara kata dan perbuatan.



ADEGAN III
(ORANG GILA)

NARATOR ALUR:
Yang kita lihat sekarang adalah mewabahnya orang-orang yang hilang ingtan, orang-orang yang tidak waras, Akibat zaman yang mulai menggila dan keaaan yang mulai menggila.

(orang-orang gila keluar dan berakting)

Narator Watak: Mengapa kalian tertawa, mengapa kalian mentertawakan kami, Kalian begitu bangga mentertawakan penderitaan kami, kalian begitu bangga menertawakan kesusahan kami. Apakah penderitaan kami merupakan suatu lelucon. Apakah penderitaan kami merupakan suatu dagelan?
Dimana letak hati nurani kalian, dimana letak moral kalian. Kalian mentertawakan kebodohan kalian sendiri. Kalian mentertawakan kepicikan kalian sendiri. Dimanakah letak simpati, empati dan cinta kasih kalian. Dimana?

ADEGAN IV
(Demonstrasi/ Tsunami)

Penguasa lari keluar panggung, demonstran berbaris membawa bahan-bahan demo dari arah penonton

NARATOR ALUR:
Sekelompok habitat ini mulai kritis. Mereka melakukan demonstrasi terhadap penguasa yang mengkrangkeng aspirasi mereka. Mengenai hari depan mereka yang lebih baik. Aksi protes terhadap kasus TKW, pencaplokan tanah rakyat, penggusuran tak jelas, manipulasi hukum, eksploitasi kaum marginal dan segudang problema psikologis social lainnya.

Narator Watak:
Sadarkah kalian bahwa kalian kerap menggunakan kata kekeluargaan, persatuan dan keadilan. Itu hanya omong kosong. Kalian senang mempergunakan kata kekeluargaan, keadilan itu hanya teori tanpa keteladanan.

Narator Watak:
Kalian senang menghamburkan kata moral untuk menyerang seseorang/ golongan. Namun hal tersebut semata untuk pamer diri , membenarkan tindakan diri dan menyembunyikan kemunafikan sehingga mengiring manusia lain kejurang penderitaan, keterasingan, ketidakadilan social, pelanggaran Hak asasi.

(Perang antara aparat keamanan penguasa dan demonstran)


Narator Watak:
Lihatlah kami, kami hanyalah arus bawah yang kritis, namun dituduh melakukan tindakan maker, pembunuhan yang tidak pernah kami lakukan. Aparat keamanan tidak peduli kami. Merekla pura-pura sibuk dengan kegiatan pengawasan, pengintipan, penguntitan, pengejaran, penangkapan, penyiksaan bahkan pembunuhan.

(Tiba-tiba Tsunami datang dan membuat mati demonstran+penguasa)


Narator Alur:
Barangkali Tuhan memang memberikan hadiah terindah bagi hambanya dengan badai tsunami. Kita memang suka mengobral ungkapan moral., kekeluargaan, persamaan, persatuan, keadilan. Disekolah-sekolah, dikantor-kantor, dipenataran-penataran. Tapi kita lupa membisikkan dengan mantap kepada diri sendiri. Itulah fenomena yang menyelimuti tahun baru kita. Mereka menantikan sang penyelamat. Penyelamat itu bisa dating dari Anda atau dating dari orang-orang yang sempat dan tidak lupa mendoakan mereka. Untuk meraih mimpi-mimpi dan angan mereka, cabutlah benalu sampai keakar-akarnya. Walaupun kita sadar bahwa keadilan itu sulit dan kebenaran itu langka mari kita berbuat untuk yang sulit dan langka itu.

Pernah Dipentaskan di Gramedia Cirebon setelah dimodifikasi.
Naskah awal dipentaskan di SMU STELLA DUCE II Yogyakarta (kelas AMAZONE-anak manis sosial one)

Kepala Daerah yang Entrepreneur

Suksesi pemilihan kepala daerah baik bupati, walikota dan gubernur sepertinya sudah terasa walaupun pelaksanaannya masih awal tahun depan. Berbagai persiapan mulai dilakukan menyambut pesta demokrasi ini.
Seolah-olah memanfaatkan tren, media massa ini pun (red.Radar Cirebon) juga menggelar kuis, ”SMS Rembug Pilkada” sampai liputan satu halaman penuh berita persiapan pilkada. Pemuatan artikel dan berita mengenai tokoh-tokoh yang berharap mencalonkan diri menjadi pemimpin daerah juga mulai menghiasi halamannya.
Lepas dari apakah itu kampanye terselubung atau bukan, dan siapa yang terpilih nanti, disadari atau tidak, ada perubahan besar di tingkat lokal yang memberi pengaruh berbagai daerah di Indonesia dalam mengelola pemerintahan.
Terutamanya dipengaruhi oleh pemberlakuan UU No 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah sejak tahun 2001. Hal ini menyebabkan pergeseran pola manajemen pemerintahan dari manajemen yang ”sentralistik-eksploitatif” menjadi ”desentralistik-partisipatif”.
Perubahan ini mengharuskan pemerintah daerah dalam mengelola daerah menggunakan tiga pendekatan sekaligus yaitu entrepreurial-competitive goverment, customer-driven goverment dan memiliki global cosmolit orientation. Entrepreurial -competitive goverment adalah pemerintah daerah yang jeli melihat peluang dan mampu mendorong adanya kompetisi di antara penyedia layanan publik dalam upaya memberikan layanan prima (excellent services) kepada konstituennya (investor, wisatawan dan masyarakat luas). Sedangkan pendekatan customer-driven goverment yaitu pemerintahan daerah yang berorientasi dan peduli terhadap setiap pelanggannya dan serius menempatkan akuntabilitas publik (rasa pertanggungjawaban) pada posisi terdepan dalam praktik kepemimpinan mereka.
Siapakah pelanggan pemerintah daerah? Tentu saja masyarakat yang mereka pimpin dan siapa saja yang memiliki potensi dan kontribusi meningkatkan kualitas hidup masyarakat tersebut. Sedangkan pendekatan yang ketiga global cosmolit orientation yaitu pemerintah daerah yang memiliki wawasan global. Membuka diri terhadap masuknya budaya global tidak peduli darimana asalnya, sejauh memiliki kontribusi positif meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya.
Langkah strategis mewujudkan hal itu, pertama menjadi tuan rumah yang baik (be agood host) bagi pelanggan daerah. Ini merupakan upaya menarik dan mengakuasisi pelanggan (customer acquisition). Untuk menjadi tuan rumah yang baik maka harus ada sinergi antara masyarakat, kalangan bisnis/entrepreneur dan pemerintah daerah.
Tiga pelaku utama tersebut harus mendorong agar semua lapisan masyarakat (termasuk LSM dan DPRD) bersikap bersahabat terhadap orang luar. Slogan nasinalisme sempit kedaerahan seperti “harus putra daerah” dalam pembangunan wajib dihilangkan.
Poin utama di sini adalah bagaimana mendapatkan sumberdaya terbaik, lepas darimana mereka berasal. Dari sisi operasional bisnis, harus terus membangun iklim bisnis yang baik dan menjamin semakin meningkatnya peluang investasi di daerah itu. Dan dari sisi kebijakan pemerintah harus mendukung kondusifnya iklim bisnis dan investasi.
Strategi yang kedua yaitu memperlakukan pelanggan pelanggan secara baik (treat your guest properly). Langkah ini bertujuan memuaskan pelanggan (customer satisfaction). Diharapkan pemerintah daerah mampu mengidentifikasi keinginan dan ekspektasi pelanggan dan responsive memenuhi keinginan tersebut. Untuk dapat melakukannya, daerah harus terus menerus memperbaiki liveability (menjamin kompetitifnya biaya hidup), investability (menyediakan tenaga kerja, perbaikan infrastuktur dan regulasi yang kondusif), dan visitability (fasilitas transportasi, revitalisasi objek wisata, membangun kemudahan serta suasana aman dan nyaman).
Ketiga, yaitu membangun sebuah ‘rumah’ yang nyaman bagi pelanggan (building a home sweet home). Pemerintah daerah menyediakan wahana yang memadai bagi aktivitas mereka. Mulai dari fasilitas pameran dan konferensi, infrastuktur fisik, telekomunikasi, hingga perguruan tinggi.
Dengan berbagai wahana ini diharapkan pelanggan akan menjadikan daerah yang bersangkutan sebagai longterm home base-nya dan upaya costumer retention akan terlaksana dengan baik.
Untuk mengetahui bahwa ketiga langkah strategis tersebut sudah dilaksanakan dengan maksimal, dapat diukur dengan lima dimensi kualitas layanan pelanggan:reliability, tangibles, assurance, emphaty dan responsiveness. Reliability adalah kemampuan untuk memenuhi kualitas pelayanan yang telah dijanjikan secara tepat dan dapat dipercaya. Apabila suatu daerah menjanjikan layanan pengurusan izin mendirikan bangunan selesai dalam satu minggu, surat izin itu akan benar-benar selesai dalam waktu satu minggu. Sedangkan tangibles adalah tampilan fisik fasilitas, media komunikasi, penampilan pegawai yang bersih, atraktif dan professional. Misalnya ketika investor bertamu di kantor pemerintah daerah, kondisi kantor, penampilan pegawai, perlengkapan yang digunakan akan mempengaruhi persepsi investor terhadap keseluruhan kantor pemerintahan.
Sementara assurance adalah pengetahuan dan sopan santun para pegawai serta kemampuan untuk memberikan rasa aman dan percaya kepada pelanggan. Contohnya penanganan pejabat pemda yang profesional bersih KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme) serta adanya kepastian hukum yang menghasilkan rasa aman bagi investor. Emphaty adalah kemampun melayani serta memberikan perhatian secara personal. Kemampuan pegawai pemda melayani keluhan masyarakat dengan pendekatan emosional dan perhatian yang tinggi terhadap problem yang dihadapi. Dimensi kualitas yang terakhir, responsiveness merupakan keinginan untuk membantu pelanggan dan menyediakan pelayanan yang tepat waktu dengan memandang pelanggan sebagai prioritas. Berarti penanganan yang cepat dan tepat terhadap keluhan yang diungkapkan masyarakat.
Menjadi marketer daerah yang marketable serta berorientasi pada pelanggan adalah suatu keharusan yang dimiliki pemimpin daerah. Jadi, jangan sekedar bersaing memperebutkan kursi dan jangan salah memilih.

Penulis adalah Marketing Toko Buku Gramedia & Dosen Akademi Perdagangan CIC

dimuat di Radar Cirebon, Sabtu Pon, 10 Februari 2007.

Rabu, 10 Desember 2008

Supervisory Management

Ada Tridarma Supervisor:
Manage Your Self,
Supervisor harus seorang yang mampu mengelola dirinya. Mengelola emosi, cara berpikir, tutur kata, dan tindak tanduknya harus benar. Dia harus meningkatkan skill, kowledge, dan attitudenya secara konsisten dan berkesinambungan.

Manage Your Job
Supervisor juga harus mampu mengelola pekerjaannya. Dia harus memiliki cara cara baru, berinovasi dan kreatif untuk melakukan pekerjaannya dengan efektif dan efisien. Hasil karyanya haruslah meningkat, baik kualitas maupun kuantitasnya

Manage Your Staff
Supervisor juga harus mampu mengelola bawahannya, merekrut anggota terbaiknya, menilai hasil kerja mereka, mengawasi, mengarahkan, memotivasi, membimbing, dan memberdayakan bawahan.

4 K dari karakteristik supervisor ideal
1. Karakter,
Supervisor haruslah seorang yang jujur, artinya mengakui semua perbuatannya: benar atau salah. Supervisor juga haruslah berintegritas, artinya melaksanakan apa yang diucapkannya, menjadi teladan, walk the talk - tidak 'asbun'.
2. Koperatif,
Supervisor harus bisa bekerja sama dengan bawahan, klien, supplier, sesama supervisor, dan atau manajernya. Dia tidak dapat bekerja soliter lagi.
3. Kompeten,
Supervisor haruslah orang yang kompeten di bidangnya. Bersyukurlah bila Anda memulai dari bawah, karena mungkin saja Anda dipromosikan karena Anda dinilai kompeten di bidang tersebut. Jika Anda fresh graduate dan mendapat rejeki nomplok sebagai supervisor, cobalah Anda mendalami bidang yang Anda geluti. Jangan malu untuk bertanya pada bawahan Anda.
4. Komunikatif
Karena anda berhubungan dengan manusia, bukan robot atau mesin, Anda harus berbicara dalam 'bahasa manusia'. Jadilah pendengar yang baik, berikan respon yang tepat - bukan menggurui - bukan menasehati apalagi mengecam. Latihlah diri Anda untuk mengucapkan artikulasi dengan jelas, bangunlah kepercayaan diri untuk berani berbicara di depan umum. Latihan presentasi, memberikan briefing, melakukan coaching, memberikan feedback, membantu problem solving, memimpin meeting, meningkatkan negotiating skills, melakukan komunikasi telpon, surat menyurat, menulis laporan, membuat pengumuman, membuat grafik, dll sesuai dengan bidang pekerjaan Anda

Supervisor harus mengetahui tiga kemampuan:

Technical Skills.
Kemampuan pertama adalah technical skills. Seperti diutarakan di depan; seorang Sales Supervisor harus bisa melakukan penjualan, misalnya. Penting bagi supervisor untuk melakukan joint visit dengan salesman (baru maupun lama) untuk lebih mengetahui kondisi pasar maupun kemampuan bawahan. Seorang Supervisor Bengkel Mobil, misalnya, harus tahu cara membetulkan mesin yang benar sehingga dia dapat menegur bawahan yang keliru mengencangkan baut, misalnya. Dia dapat menilai montir yang bekerja baik dan yang asal-asalan sehingga performance appraisal yang dilakukannya dapat akurat. Di tingkat supervisor kemampuan teknis menjadi sangat dominan dibanding level manajerial di atasnya. Mengapa? Karena dialah tempat bertanya bagi staf, di kantor, di pabrik, maupun di lapangan. Dia menjadi guru bagi bawahannya.

Interpersonal Skills
Lebih dari 8 jam masa terjaga seorang supervisor dikelilingi oleh manusia. Sekalipun dia bekerja diindustri manufaktur yang fully automatic dikerjakan oleh mesin atau robot, tetap saja ada operatornya. Supervisor berinteraksi dengan manusia yang memiliki rasio dan emosi. Mereka membutuhkan pujian, sapaan, senyum persahabatan, didengarkan keluhannya, dibantu persoalannya, ditegur jika melakukan kekeliruan, diajari, diacungi jempol, disalam dengan hangat, dll. Anda menjadi sahabat bagi mereka yang menjadi konstituen Anda. Sampai level puncak pun interpersonal skills ini tetap diperlukan.

Conceptual Thinking
Meski tugas Anda sebagian besar adalah mengerjakan kebijakan perusahaan, tetapi karena Anda sudah menjadi bagian manajemen di lini depan, maka Anda perlu meningkatkan kemampuan berpikir konsep. Anda perlu belajar untuk memahami visi-misi perusahaan dan menterjemahkannya menjadi SOP yang mudah dipahami bawahan karena sederhana dan sistematis. Anda juga perlu memperjuangkan usulan dari bawah dan menyisipkannya kedalam proposal yang dapat mendukung tercapainya visi-misi perusahaan. Karena itu Anda perlu belajar grafik, diagram, table dsb seperti bahasa yang dipahami oleh para ‘dewa' di puncak kekuasaan. Tanpa itu semua, proposal maupun report Anda hanya akan dipandang sebagai surat cinta anak monyet (?)

Selasa, 09 Desember 2008

TERIMA KASIH PENTING GAK SIH ??

Beberapa waktu yang lalu saya disadarkan ketika melihat reality show televisi. Diceritakan tentang seorang petugas POM bensin yang sudah bekerja bertahun-tahun, tetapi jarang mendapatkan ucapan terima kasih dari pengendara pembeli bensin. Dalam jangka waktu 1 jam, bila ada orang yang mengucapkan terima kasih setelah diisi bensinnya, maka oleh pihak stasiun televisi, pembeli itu akan mendapatkan uangnya kembali alias bensinnya yang ia beli tadi gratis. Hasil akhirnya, dalam selang waktu itu, 67 orang mengisi bensin, dan hanya 3 orang saja yang mengucapkan terima kasih, 1 pengendara mobil dan 2 motor.

”Terima kasih?..PENTING GAK SIH?!!” Mungkin itu yang mengambarkan kondisi saat ini. Ternyata ucapan ”terimakasih” sama sulitnya diucapkan seperti halnya kata ”maaf”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata terima kasih berarti mengucap syukur, menyatakan rasa lega atau senang. Suatu penghargaan yang tulus kepada orang lain yang tidak dapat dinilai dengan uang. Sayangnya hal sepele namun besar manfaatnya seperti ini tidak diperhatikan. Mudah dituliskan, jarang diucapkan bahkan sulit dilakukan dengan tulus.

Apakah diantara kita juga memiliki sense of appreciation yang relatif rendah? Misalnya pada saat usai pelatihan ataupun seminar, dari semua peserta yang hadir, hanya beberapa yang mengucapkan terimakasih, menghampiri, menyalami fasilitator dan penyelenggara. Itupun yang mendekat, biasanya karena hendak mencopy materi dari laptop ke flashdisknya.

Saya teringat waktu SD tradisi berterimakasih kepada guru dilakukan setiap pulang sekolah. Setelah berdoa, bersalaman dengan guru di muka pintu, sambil mengucapkan salam dan terimakasih. Kemudian SMP dan SMA, tradisi tersebut luntur dan ucapan “terima kasih” dilakukan pada seremonial perpisahan kelulusan kelas III. Parahnya memasuki perguruan tinggi, tradisi itu tidak ada sama sekali, setelah diajar, bahkan dosen masih berkemas dan belum beranjak dari kursi, saya serta teman-teman langsung saja ’ngibrit’ keluar.

Apakah semakin modern justru tradisi luhur itu meluntur?Alangkah indahnya, andai saja slogan 4 S + 1 T (Senyum, Salam, Sapa, Santun dan Terimakasih) yang selalu didengung-dengungkan Sistem Mutu Toko Buku Gramedia tempat saya bekerja benar-benar tumbuh menjadi kebiasaan kita. Seorang yang mau mengucapkan terima kasih menunjukkan orang tersebut berbesar hati karena memberikan penghargaan ke lawan bicaranya. Ucapkan terimakasih kepada siapa saja yang membantu Anda menyelesaikan pekerjaan! Tidak hanya konsumen kita tapi juga tim kerja, atasan, bawahan, bahkan yang mengkritik kita. Hal itu memberikan energi positif baik pada si pemberi maupun penerima.

Pepatah China kuno mengatakan ”When eating bamboo sprouts remember the man who planted them” (Jika anda memakan rebung bambu, jangan lupa berterimakasih ke penanamnya). Jika kita sukses, jangan lupakan orang-orang yang telah membantu kita. Ucapan terimakasih secara tulus, laksana air yang melegakan tenggorokan di tengah padang pasir. Semoga bermanfaat. Terimakasih Pembaca.

Daftar Isi